Lirik Lagu GOD oleh John Lennon

January 10th, 2009 by djhondjenggot

Aku suka sekali lagu GOD dari John Lennon, ini liriknya ;

GOD

God is a concept by which we measure our pain
I’ll say it again
God is a concept by which we measure our pain
I don’t believe in magic
I don’t believe in I-Ching
I don’t believe in Bible
I don’t believe in tarot
I don’t believe in Hitler
I don’t believe in Jesus
I don’t believe in Kennedy
I don’t believe in Buddha
I don’t believe in mantra
I don’t believe in gita
I don’t believe in yoga
I don’t believe in kings
I don’t believe in Elvis
I don’t believe in Zimmerman
I don’t believe in Beatles –
I just believe in me
Yoko and me — and that’s reality
The dream is over — what can I say?
The dream is over — yesterday
I was the dream-weaver but now I’m reborn
I was the walrus but now I’m John
And so dear friends you’ll just have to carry on –
The dream is over.

Tiba -Tiba Sartre

January 3rd, 2009 by djhondjenggot

Jean Paul Sartre, bukan karena tak bertuhan aku mengaguminya atau bukan karena sangat terkenal atau bukan juga karena dia berani menolak nobel sastra tahun ‘64 -yang mana nobel adalah sesuatu yang sungguh diinginkan banyak orang-. Aku mengaguminya tanpa alasan, hanya kagum.

Masalah “Ada”

“Eksistensi mendahului esensi”, begitulah selalu filusuf-filusuf eksistensialis berkata, ”dan cara manusia bereksistensi berbeda dengan cara beradanya benda-benda. Karenanya masalah “Ada” merupakan salah satu tema terpenting dalam tradisi eksistensialisme.

Bagi Sartre manusia menyadari Ada-nya dengan meniadakan (mengobjekkan) yang lainnya. Dari Edmund Husserl ia belajar tentang intensionalitas, yakni kesadaran manusia yang tidak pernah timbul dengan sendirinya, namun selalu merupakan “kesadaran akan sesuatu”. Baik kita ajukan contoh: Saat ini saya menyadari tengah duduk dalam sebuah forum diskusi, bersama dengan orang lain, serta benda-benda lain, sekaligus menyadari bahwa saya berbeda dengan orang lain, dan juga bukan sekedar benda. Saya meniadakan (mengobjekkan orang dan benda lain). Begitulah kira-kira titik tolak filsafat Sartre.

Untuk memperjelas masalah ini, filusuf bermata juling ini menciptakan dua buah istilah; être-en-soi, dan être-pour-soi. Dengan ini pula ia membedakan cara ber-Adanya manusia dengan cara beradanya benda-benda.

Benda-benda hadir di dunia setelah ditentukan lebih dulu identitas (esensi) nya, sifatnya être-en-soi. Dengan sifatnya yang seperti ini benda-benda tidak mempunyai potensi di luar konsepsi awalnya. Sebuah komputer sebelum dirakit, telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran, tak punya potensi untuk melampui keadaannya yang sekarang; eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi. Sementara manusia, dengan Ada yang bersifat être-pour-soi, eksistensi yang mendahului esensi, selalu punya kapasitas untuk melampaui dirinya saat ini, dan menyadari Ada-nya. Misalnya seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar, ketika ia lulus, maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. Atau bisa jadi, esok hari ia kedapatan mencuri, maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. Begitu seterusnya, sampai ia mati.

Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan benda-benda. Mempunyai identitas dan esensi yang pasti. Celakanya, manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda, karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus.Cara beradanya benda tak punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia. Sementara manusia sebaliknya, karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain, maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain. Dari konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap ateismenya.

Ateisme Sarte

Sudah kita bahas di atas tentang hubungan antara dua cara meng-Ada. Ada-nya benda, tidak mempunyai kesadaran, tidak memiliki potensi, dan tak ada hubungannya dengan Ada manusia yang dihayati lewat kesadaran, dan dengan cara meniadakan, atau menjadikan yang lain sebagai benda.

Dalam konsepsi agama -misalnya Islam, Adam (manusia) diciptakan Tuhan dengan mengemban tugas tertentu. Dalam bahasa Sartre sebelum ia bereksistensi, ia lebih dulu direncanakan esensinya. Tapi pada kenyataannya pola esensi yang dimiliki manusia adalah yang sifatnya penuh dengan potensi. Ia tak pernah bisa didefinisikan esensinya hingga kematiannya. Selain itu, karakteristik dasar dari kesadaran manusia adalah keterarahan kepada sesuatu (intensionalitas), sekaligus egois. Kontradiktif dengan konsepsi Tuhan sebagai penentu esensi manusia, atau dengan kata lain membuat manusia menjadi benda.

Sebelum Sartre, dunia juga mengenal Friedrich Nietzsche, sang nihilis dari Prussiayang kondang dengan frasanya; “Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getotet.” Bedanya, jika Nietzsche mengumumkan kematian Tuhan dengan tiba-tiba, maka Sartre melakukannya dengan lebih dulu menunjukkan kerancuan logika mengenai keberadaan Tuhan.

Kebebasan manusia

Pertanyaannya, eksistensialisme adalah tradisi filsafat antropologis, yang memusatkan diri pada pertanyaan dan pernyataan tentang manusia. Lalu kenapa dua orang ini perlu repot-repot untuk membunuh Tuhan?

Nietzsche dan Sartre punya jawaban yang hampir mirip; jika Tuhan telah mati, segala nilai-nilai menjadi absurd; tak ada artinya. Karena telah kehilangan landasannya yang suci. Maka manusia bebas untuk berkehendak; merdeka! Kebebasan bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. Kebebasan bukanlah rahmat bagi manusia, kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan yang lain, tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Dengan modus keberadaannya yang bersifat être-pour-soi, manusia bebas untuk mewujudkan apa yang diinginkannya.

Namun kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. Di satu sisi hal itu berarti ia berhak untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh, namun di sisi lain ia membuat kita merasakan kegelisahan. Karena itu filusuf yang juga aktivis kemanusiaan ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif; “manusia dikutuk dengan kebebasannya!”

Perasaan gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. Kegelisahan ini timbul dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan, dan ia sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Dalam merealisasikan kehendak dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya, karena nilai-nilai ditentukan oleh dirinya sendiri.

Sebuah alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan terjal. Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas, karena membayangkan apa yang akan terjadi. Semuanya tergantung pada diri sendiri, apakah akan terjun, atau mundur untuk menyelamatkan diri. Tak ada orang yang menghalangi untuk terjun, segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. Masa depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya.

Orang lain adalah neraka bagi diri sendiri

Satu tema yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi antar manusia. Karena kontroversinya, tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para kritikusnya.

”Dosa asal saya” kata Sartre, ”adalah adanya orang lain”. Demikian kira- menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal ini. Bagi filusuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini, hubungan antara aku dengan orang lain, senantiasa berdasarkan konflik. Untuk membahas masalah ini kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk menggambarkan modus ber-Ada; être-en-soi, dan être-pour-soi, karena dari sini muasalnya asumsi Sartre. Mengingat doktrin tersebut, hakikat kesadaran manusia adalah intensionalitas, yakni kesadaran terhadap sesuatu, sekaligus mengobjekkan segala sesuatu. Sekarang bayangkan jika “Aku”, bertemu dengan “Aku-Aku” yang lain, kesadaran yang menegasi, bertem dengan jenis yang sama.

Dalam hal ini Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus dan terkenal; saya sedang mengintip pada lubang kunci, ketika tiba-tiba mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. Ketika tengah mengintip, apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya, orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek, dan sayalah subjeknya. Sementara, ketika seseorang memergoki saya, mendadak sayalah yang menjadi objek dalam kesadarannya. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip, mau tahu urusan orang, dll).

Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya. “Aku berpura-pura menjadi objek cinta pacarku, dan menyerahkan diri sepenuhnya. Padahal, sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya.”

Ada juga kemungkinan lain, misalnya ketika si A, B, dan C saling berselisih. Bisa jadi si A, akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara, dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. Begitulah filusuf ini menjelaskan bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk.


my live is not like a story

December 25th, 2008 by djhondjenggot

dulu aku juga pernah kecil

pergi sekolah untuk belajar dan pintar

terus seperti itu

berfikir bahwa bila melakukan itu, maka :

semua cita-citaku akan tercapai ;

aku besar dan menjadi ganteng

bekerja dikantor dan hidup mapan

membangun keluarga dengan bahagia.

tapi pada kenyataannya ;

hidupku tidak seperti sebuah dongeng

semua beertolak belakang

hidup tak semudah yang aku pikirkan dulu

pintar bukan asosiasi dengan kaya disini

ganteng tidak berarti bisa mudah mendapatkan pasangan hidup

sekarang aku cendrung hidup untuk sesuatu yang absurd

kadang aku merasa tujuan hidupku tak jauh beda dengan kaum hipies

kadang aku ingin hidup menggelandang

melawan semua kebiasaan dan formalitas hidup sehari-hari

aku ingin hidup pada dunia lain didunia ini

dunia dongeng yang tak lagi diperdulikan banyak orang

aku terus mencari dunia itu, tempat aku bebas

tapi sekali lagi

my live is not like a story

tak ada gunanya harapan bila kita tak berusaha

karena sekarang aku tidak tinggal di negeri dongeng.

Jadi Apa Kita???

December 17th, 2008 by djhondjenggot

Namanya adalah murbei, cuma sebuah tumbuhan bagi sebagian makhluk, tapi bagi sebagian lain murbei itu adalah awal. Murbei ini memang tumbuhan biasa, ada yang menyebutnya arbei, mullberry dan lainnya. Tapi disebalik biasa itu murbei menyimpan sisi yang mengejutkan. kalau kau mau tau apa khasiat murbei kau harus memakannya, masalahnya manusia sangat jarang makan murbei ini.

Tersebutlah ulat sutra yang memakan murbei, maka terciptalah benang sutra yang ditenun menjadi kain sutra. bagi orang tiongkok dulu kain sutra adalah pakaian para dewa.

Lebah pun makan murbei, maka terciptalah madu. Cairan manis yang banyak sekali khasiatnya.

Tak ketinggala musang memakan murbei itu, maka keluarlah kasturi. yaitu kotoran yang wangi, digunakan untuk minak wangi.

Tapi saat sapi yang memakan murbei itu, yang keluar cuma kotoran yang bau. sungguh cuma sekedar kotoran.

Seperti itulah ilmu pengetahuan, bagi sebagian orang ilmu pengetahuan cuma buang-buang energi. tapi bagi sebagian orang ilmu pengetahuan itu kebutuhan.

Maka jadi apakah kita didepan ilmu pengetahuan? ulat sutra yang menghasilkan sutra, lebah yang menghasilkan madu, musang yang menghasilkan kasturi atau cuma sekedar sapi yang mengeluarkan kotoran.

Apakah ikan tidur ????

November 28th, 2008 by djhondjenggot

Salah satu iklan susu di tipi menampilkan seorang anak dan temannya yang seekor ikan, terjadilah percakapan dimalam hari sebelum tidur terjadi percakapan antara si anak dan siikan. ” udah malem ikan bobok…” , ikan cuma menjawab dengan mangap-mangap. apakah efek minum susu dimasa kecil membuat anak bisa bicara dengan ikan atau membikin anak jadi kurang waras dengan bertanya dengan ikan??? entahlah, belum ada yang meneliti itu.

tapi ada lagi satu pertanyaan : apakah ikan tidur??????

ada dua jawaban yang didapat :

1. ikan itu tidak pernah tidur. alasannya karena ikan hidup didalam aer, jadi ikan nggak pernah bisa tidur sebab setiap dia mau tidur dia udah diguyur aer, trus bangun lagi dan gitu seterusnya jadi ikan nggak bisa tidur.

2. ikan itu sebenarnya tidur. ini adalah jawaban yang berasal dari aku sendiri saat ponakan yan gpaling kecil yang terkena insomnia ( sama dengan aku ) bertanya apakah ikan tidur??? ” ikan sebenarnya tidur tapi dia tidurnya kalau semua orang sudah tidur dan bangun sebelum semua orang bangun tidur”. kalau tak percaya buktikan sendiri. masak iya ikan nggak bobok, bisa ngantuk dong nanti kalau mau malam minggu kerumah pacarnya.

jadi terserah anda mau percaya yang mana, tapi kalau aku percaya bahwa ikan itu tidur.

Manusia = Bodoh (3)

November 25th, 2008 by djhondjenggot

Ada kertas yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga kertas itu berkuasa melebihi banyak hal yang dimiliki manusia. kertas itu sesuatu yang dicari dan diperjuangkan dalam hidup. Kertas yang mempunyai benyak warna, kita menyebutnya uang.

Mengapa bisa kertas ini menguasai manusia, bukankah manusia yang membuat kertas itu. Manakah yang lebih penting antara makanan dengan kertas ini. Banyak diantara manusia yang mengejar kertas dari pada makanan. Terlihat dari lebih sedikit yang menjadi petani tanaman makanan dari pada pekerjaan yang lebih menjanjikan karena menghasilkan uang.

Yang paling mengherankan banyak diantara kita menganggap rendah pekerjaan petani bahkan menganggap menjadi petani itu bodoh dan pilihan yang terakhir. Bukankah menjadi pekerja kantoran lebih bonafid dan menghasilkan uang. Pernahkah kita berfikir bila tidak ada petani kita mungkin akan kekurangan pangan.

Petani manusia dan bukan petani pun manusia. Menjadi petani berarti kau bodoh karena hidup dalam pandangan rendah setiap orang dan menjadi miskin. Menjadi tidak petani berarti kau juga bodoh karena tidak menyadari behaya yang akan ditimbulkan bila semua orang tidak ada yang jadi petani.

Menghargai petani itu lebih penting, mungkin kau bisa mencoba menjadi petani kecil-kecilan dihalaman rumah untuk menghargai petani.

Mencari orang yang akan dipercaya

November 22nd, 2008 by djhondjenggot

Nilailah seseorang dengan memperhatikan :

1. Ketika dia belum terkenal, perhatikan pada siapa saja dia bergaul.

2. Saat dia menjadi kaya, lihat pada siapa diamemberikan uangnya.

3. Ketika dia memiliki kedudukan yang tinggi, perhatikan siapa yang dipromosikannya.

4. Saat dia miskin, lihat pekerjaan apa yang ditinggalkannya.

5. Saat dia dalam kesusahan, amatilah bantuan apa yang dia tolak.

Dengan memperhatikan hal diatas kita baru bisa menilai orang yang akan kita percayai.

Manusia = Bodoh (2)

November 20th, 2008 by djhondjenggot

Melihat orang merokok bukanlah hal yang aneh sekarang, yang aneh justru melihat orang yang tidak pernah merokok. melakukan hal-hal yang baik adalah sesuatu yang langka, hal-hal yang berhubungan dengan krminal menjadi pemandangan setiap hari. seseorang yang menonton kartun adalah orang aneh, melihat sesuatu yang tidak baik menjadi kebiasaan.

Menjadi orang baik dan lurus sekarang harus rela dijauhi dan dianggap tidak normal. bukankah manusa mau dunia ini aman dan menjadi rumah yang indah? tapi mengapa kita merusak tatanan yang berjalan wajar tadi. sekarang arus berada pada jalur yang terbalik dan begitu terus entah sampa kapan.

menjadi manusia baik adalah bodoh karena kau akan sendiri dan dianggap tak waras, menjadi manusia tak baik juga adalah bodoh karena kau sesungguhnya tidak normal dan tidak menyadari ketidak normalanmu.

Manusia = Bodoh

November 19th, 2008 by djhondjenggot

semakin lama semakin jelas bahwa apa yang kita cari adalah ketiadaan. semua kelelahan berjam-jam karena kerja bukan untuk apa-apa, cuma untuk mengejar sesuatu yang pasti akan hilang. malangnya menjadi manusia, makhluk yang ditakdirkan sempurna karena kita punya semuanya termasuk segala kebodohan dan keburukan yang lainnya.

membaca FRANZ KAFKA : antara igauan, kesepian dan sakit pikiran

November 12th, 2008 by djhondjenggot

apa yang bisa kita rasakan saat kurang tidur, kerjaan menumpuk dan wajib disiapkan secepatnya ditambah kebimbangan menghadapi masa depan ? mungkin kita bisa menjadi karya FRANZ KAFKA bila merasakan semua itu secara bersamaan. membaca kafka berarti memasuki dunia yang berada antara dunia nyata , hayalan, dan mimpi. dunia yang berputar rumit membuat sebuah gelombang yang membuat kita merasakan kesepian dan ketakutan menghadapi masa depan yang tidak ada pilihan lain.

pertama kali membaca kafka ( judulnya indonesianya kira-kira : pameran pesawat udara dari brescia ) terasa membingungkan. baca lagi baru mengerti, mungkin karena tulisan kafka berbeda dari bacaan yang kubaca saat itu. setelah mengerti aku mulai mencari tulisan yang lainnya: juru api, metamorposis, josafin, seniman berpuasa, meditasi, srigala dan orang arab, dokter desa dan banyak lagi. semua karya kafka seperti igauan dan kelam juga sunyi.

terkadang kita bisa merasakan kafka menulis karyanya dalam keadaan kurang tidur dan perasaan takut juga kesepian. merasakan kegelapan dalam gegap-gempita keramaian kota yang terang. tidak ada semangat sama sekali dalam karyanya, jadi ini bukan buku untuk memotifasi diri.

andaikan saja kita semua ini tokoh yang berada dalam karya kafka, aku rasa kita akan menerima hal-hal yang tidak inginkan tapi dipaksakan pada diri kita sehingga bentuknya pas tapi kita tidak nyaman dengan keadaan kita.

apakah takdir yang lebih buruk dari pada menjadi kecoak raksasa seperti yang dialami gregor samsa ( metamorposis ), lebih buruk dari kematian sekalipun. rasakan bila nanti suatu pagi saat bangun tidur kau sudah menjadi kecoak besar, harus menyesuaikan diri dalam badan baru yang pasti tidak nyaman, ditinggalkan orang-orang bahkan oleh keluarga sendiri. bukankah itu takdir yang sungguh menyedihkan?

dalam dunia nyata sungguh banyak orang seperti gregor samsa, tapi kita hidup dengan jasad manusia. hidup seperti kecoak, makan sisa orang lain, hidup penuh pandangan jijik dari orang-orang dan bekerja seperti robot yang selalu disuruh-suruh. tapi tetap seperti gregor samsa, kita tidak bisa lepas dari itu semua dan hidup tak pernah berubah.

tulisan-tulisan ini sungguh membuat sakit pikiran, tapi kita terus membaca. kita membaca demi menunggu happy ending diakhir cerita yang tak kunjung datang dari karya kafka. begitulah kafka menulis apa adanya, terkadang kita tidak menyukainya tapi kita menagkui kebenarannya dan terus membaca dengan perasaan yang makin bimbang karena akhir bahagia itu sungguh tidak ada.

‘ sebuah kisah tak selamanya harus berakhir bahagia, terkadang kisah itu menyakitkan dan bahkan terkadang kisah itu tidak pernah berakhir. ‘